Sabtu, 06 Juni 2015

Hafidz Muda Indonesia

Alhamdulillah, segala puji milik Allah swt yang karena izin Nya lah acara Hafidz Muda Indonesia dapat berjalan dengan lancar.  Acara Hafidz Muda Indonesia ini dilaksanakan pada  hari Sabtu, 16 Mei 2015 jam 07.00-12.00 di Masjid Iqomah UIN Sunan Gunung Djati. Acara ini merupakan kerjasama Ash Shaff Education dan DKM Iqomah UIN Sunan Gunung Djati





 Acara dimulai pada pukul 07.00 Peserta yang sudah mendaftar melalui sms, WA, dan BBM sebelumnya mendaftar ulang ke meja registrasi. Peserta dibagi menjadi 2 kategori, peserta wisuda hafalan dan peserta umum. Peserta wisuda hafalan mulai registrasi ulang pada pukul 07.00 dengan mendatarkan nama dan juz hafalan yang akan disertifikasi. Peserta yang sudah registrasi mendatangi musrif/penguji yang sudah dibagi berdasarkan juz nya masing-masing. Sebagian besar para peserta wisuda hafalan adalah mahasiswa UIN, namun yang menarik adalah adanya anak-anak yang mendaftar sebagai peserta sertifikasi juz 30.

Registrasi peserta akhwat
Registrasi peserta ikhwan










salah satu peserta anak-anak
peserta akhwat yang sedang menyetorkan hafalan




Pada pukul 10.00 ,s etelah semua peserta menyetorkan hafalannya, peserta dikumpulkan di dalam masjid Al Iqomah untk mendengarkan tausiah Qur'an dan berbagi motivasi dan inspirasi dengan para penghafal qur'an. Antusias perserta terhadap aktifitas menghafal quran terlihat dari diskusi dan dialog antar narasumber dan peserta. Seluruh peserta ingin menjadi orang-orang yang senantiasa bersemanngat menambah dan menjaga hafalan qur'an mereka. Untuk senantiasa menjaga semangat berinteraksi dengan Al Quran, diperlukan lingkungan yang mendukung. Salah satu upaya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dalam berinterkasi dengan Al qur'an adalah dengan membentuk komunitas Shahibul Qu'an. Maka komunitas Shahibul Qu'an pun dilaunching dengan dipandu oleh Ust. Dani Zaelani Ibrahim

Anggota komunitas Shohibul Quran

Berbagi inspirasi dan motivasi dengan para penghafal Qur'an

Semoga acara ini dapat dilaksanakan di kampus,sekolah dam masjid-masjid lainnya sehingga semangat untuk membaca alquran dan menjadi para penghafal qur'an dapat menyebar kepada masyarakat dan mencipatakan generasi-generasi  qurani. Semoga Allah swt senantiasa menghimpun diri kita bersama orang-orang yang cinta dan mengamalkan Al Qur'an. Aamiin..











Selasa, 05 Mei 2015

Hafidz Muda Indonesia

Kabar gembira bagi para pecinta Al-Qur'an :)

Hadirilah,
WISUDA AKBAR TAHFIDZUL QUR'AN dalam acara 
"HAFIDZ MUDA INDONESIA"
  • WISUDA HAFALAN JUZ 1, JUZ 2, JUZ 28, JUZ 29, JUZ 30
  • SERTIFIKASI HAFALAN
  • TAUSYIAH QUR'ANI
  • LAUNCHING KOMUNITAS " SHOHIBUL QUR'AN "


Sabtu, 16 Mei 2015
Pukul. 07.00 - 12.00 WIB
di Masjid Iqomah UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Terbuka untuk UMUM
HTM: Rp 5.000,-
Fasilitas: Sertifikat (ijazah hafalan yang disetorkan), snack, sticker

PENDAFTARAN 
melalui WA/SMS/BBM, dengan cara:

Ketik:
Nama_HafidzMudaIndonesia_No HP_Pilihan Juz

Kirim ke +6281321652559 (WA/SMS)  
atau PIN 5400E335 (BBM)

#HafidzMudaIndonesia
 #RumahQur'anIndonesia


Supported by:
Restoran Katsurupan (Jl. Babakan Sari 132 Bandung)

Media Partners:
MQ 102.7 FM
Bandung TV
Infobdg Media Network

Jumat, 03 April 2015

ADAB MEMBACA AL QUR'AN

Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta’ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam“Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an:
1. Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang.
Dalam membaca Al-Qur’an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59)
2. Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca.
Rosululloh bersabda, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan)
Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rosululloh telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR. Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.
3. Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.
Alloh Ta’ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra': 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.
4. Membaguskan suara ketika membacanya.
Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam“Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya.
5. Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)
Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu’.
Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam bersabda, “Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).”(HR. Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim). Wallohu a’lam.
***
Penulis: Abu Hudzaifah Yusuf
Artikel www.muslim.or.id

Selasa, 24 Maret 2015

Ash-Shaff Bangun Generasi Berjiwa Qur'ani

http://www.bandungoke.com/view.php?id=120406085130

TENANG dan damai. Itulah kesan yang terasa menghujam ke dalam hati. Di setiap sudut ruangan, terdengar gema Al-Qur'an yang dibaca dengan metode “Tahsin”. Merdu sekali. Tampak beberapa ikhwan dan akhwat menikmati baris demi baris kalam-Nya yang tersaji rapi dalam mushafUtsmani. Khusyu' dan menyejukkan setiap insan yang mendengar.
Begitulah suasana yang tercipta di dalam sepetak rumah, sejak mentari mulai mucul hingga ia kembali ke peraduan. Itulah yang terjadi di Ash-Shaff Education. Sebuah LSM yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi bagian dari pelaku-pelaku kebaikan dalam membebaskan kaum muslim dari kebutaan Al-Qur'an. 
Lembaga yang kini berpusat di Komplek Taruna Parahyangan, Jl. Taruna no 39 A, RW 02, Bandung ini sudah 3 tahun membuka bimbingan belajar “Tahsin dan Tahfidz Al-Qur'an” gratis. Sesuai Akta Notaris No. 15 tanggal 4 Juni 2008, Ash-Shaff bergerak dalam lingkup pendidikan Al-Qur'an, sosial, dan dakwah.
Usia Ash-Shaff masih tergolong balita (bawah lima tahun), namun tidak kurang dari 1000 tuna netra Al Qur’an berhasil diberantasnya.  “Lebih dari 100 peserta tiap rekrutmen per tiga bulan sekali, jadi bisa dihitung berapa banyak peserta sampai tiga tahun ini,” ungkap Akh Ayang, pengajar Ash-Shaff yang tampak ramah menyambut kedatangan calon peserta baru untuk registrasi.
Setelah menamatkan proses belajar Tahsin dan Tahfidz selama 6 bulan, peserta tidak serta merta dilepas begitu saja. Ash-Shaff menawarkan pilihan menjadi tenaga pengajar atau staff tetap di sana, tentu dengan catatan bagi mereka yang berkompeten untuk memajukan. Setidaknya, berbekal 4 metode Tahsin yang telah dikuasai, diharapkan peserta mampu berbagi dengan orang terdekat mereka untuk mengulas kembali dan turut membebaskan kebutaan Al Qur’an sebagai salah satu bentuk pengamalan generasi berjiwa Qur’ani.
Beasiswa Pembinaan Tahsin
“Dari sekian banyak orang Indonesia yang beragama Islam, berapa orang yang shalat? Dari yang shalat, berapa yang membaca Al-Qur'an? Dari yang membaca Al-Qur'an, berapa yang membaca artinya? Dari yang membaca artinya, berapa yang paham? Dari yang paham, berapa yang mengamalkan?" 
Sederet kalimat refleksi yang acap kali kita dengar di sela pengajian itu, agaknya menarik hati Ustad Dani, penggagas Ash-Shaff untuk turut berkiprah memperbaikinya, khususnya terkait pendidikan Al-Qur'an. Di lapangan fakta berbicara, tidak sedikit orang Islam, terlebih generasi modern saat ini, yang masih buta Al-Qur’an, bahkan enggan mengenal apalagi menyelami dan mengamalkan Al-Qur'an. Hal ini dapat tampak dari minimnya pengamalan Al-Qur'an sebagai pedoman dan petunjuk sejati dalam setiap derap kehidupan sehari-sehari.  
Berangkat dari keprihatinan itulah, Ustad Dani dan karibnya merapatkan barisan, mendirikan sebuah lembaga berbasis Al-Qur'an yang bisa diikuti anak-anak, remaja, dewasa, juga orang tua tanpa biaya sepeser pun. Inilah program Beasiswa Al-Qur'an dalam bentuk pembinaan “Tahsin dan Tahfidz Al-Qur'an” selama 6 bulan. 
"Beasiswa ini memang bukan berupa uang tunai, kami memberikan dalam bentuk pembelajaran Al-Qur'an secara gratis," jelas Akh Ayan, alumni Prodi Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2003, yang juga ikut mendirikan lembaga ini, saat berbincang, baru-baru ini. 
Jika pembelajaran ini diberikan secara cuma-cuma, lalu dari mana dana operasional lembaga? ‘Paguyuban Donatur' adalah jawabannya. Paguyuban Donatur “Ash-Shaff Education” menggagas Program Pendidikan, Da'wah, dan Sosial bertajuk "Semua Bisa dari Shodaqoh" yang telah memberantas ribuan tuna aksara Al-Qur'an sejak 3 tahun silam. 
Donasi dalam bentuk uang tunai dan penitipan kencleng (kotak tabungan) ini menjadi modal utama untuk mengoperasikan beasiswa Al-Qur'an. Program pendidikan gratis ini dibuka setiap 3 bulan sekali atau menjelang pembelajaran tahsin 1 usai. 
"Setiap peserta yang mengikuti bimbingan tahsin ini akan diberi sebuah kencleng. Ia boleh memberi shodaqoh seikhlasnya, baik dari pribadi maupun diisi oleh shodaqoh orang lain. Nanti setiap bulan dikumpulkan dan kami mengelolanya untuk segala biaya operasional Ash-Shaff itu sendiri,"  lanjut Ayang, lajang Jatinangor yang kini menjadi tenaga pengajar di beberapa sekolah, selain di Ash-Shaff. 
Jadi secara tidak langsung, mereka yang belajar di sini juga menjadi donatur, karena uang itu digunakan semaksimal mungkin untuk kemaslahatan bersama. Selain dari peserta, donatur yang tidak melembaga (baca: perorangan) ini juga berasal dari kalangan masyarakat umum yang diterima via rekening. Berkat tangan-tangan dermawan itulah, beasiswa Al-Qur'an ini berjalan. 
Paguyuban Donatur juga membuka program Dompet Peduli Da'i, menyentuh ranah pengembangan dakwah. Donasi disalurkan untuk da'i dan da’iyah di berbagai daerah sebagai dana subsidi atau diberikan dalam bentuk pembinaan dan pelatihan. Sedang bidang sosial, Ash-Shaff lewat Paguyuban Donatur ini menggalakan program "Tebar Al-Qur'an", yang memberikan sarana penyediaan Al-Qur'an untuk masyarakat atau kalangan majlis taklim yang terbatas dalam hal ini. 

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkan sebagian harta yang kamu cintai..”(Q.S. Ali Imran: 92).  Selain bergerak dalam pendidikan Al-Qur'an, agaknya nilai islami yang terkandung dalam perintah shodaqoh di  atas, benar-benar diterapkan Ash-Shaff. [Damae Wardani/Bandung.Oke.Com]

Jumat, 13 Maret 2015

MUQADIMAH

Kualitas masyarakat merupakan cerminan dari kualitas suatu bangsa. Bangsa yang gagal membina generasi secara moral dan kapabilitas akan menjadi bangsa yang hancur di kemudian hari.
Negara-negara maju di dunia sangat khawatir dengan kelanjutan masa depan negara mereka. Apalah artinya kemajuan ekonomi, kecanggihan tekhnologi dan militer sementara masyarakatnya sedemikian rusak moralnya dan tidak bisa diharapkan di masa depan? Bayang-bayang kemunduran atau bahkan kepunahan suatu bangsa tampak begitu menakutkan.
Maka, masyarakat Islam pun harus mempersiapkan diri agar mampu berkompetisi sekaligus mengambil peranan yang lebih besar. Berbagai elemen bangsa Indonesia yang mayoritas muslim harus bangkit dan bahu-membahu mengembangkan program pembinaan masyarakat yang bermuara pada pencapaian kualitas iman dan takwa serta penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang mumpuni.
Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubahnya. Bangsa Indonesia bila ingin maju, maka harus mengubah dirinya sendiri. Krisis multidimensi yang terjadi merupakan akibat dari fenomena rendahnya moral dan intelektual bangsa.
Dari latar belakang di atas, ada kerja besar yang harus dilakukan untuk sebuah perubahan besar di masa depan. Mewujudkan harapan akan tumbuhnya tatanan masyarakat yang Islami. Pendidikan Islam adalah salah satu solusi dalam menangani masalah krisis multidimensi di Indonesia. Pendidikan ini yang secara langsung membimbing generasi muda yang akan menggantikan generasi pendahulu agar lebih baik. Dengan demikian kehadiran sebuah lembaga pendidikan Islam di tengah-tengah mayarakat sangat dibutuhkan. Maka inilah yang melatar belakangi kami mendirikan lembaga pendidikan Islam ASH-SHAFF EDUCATION.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali ’Imran: 110)

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar. (QS An-Nisaa: 9)